Seks yang Katrin Alami Seperti Ditusuk-tusuk Akibat Menderita Vaginismus

Toronto Katrin Maslenkova (27) mesti berjuang melawan vaginismus, yang sebabkan interaksi seks begitu menyakitkan. Ia mulai layaknya ditusuk-tusuk tiap-tiap kali terkait seks.

Vaginismus, keadaan yang memengaruhi 1 dari 500 wanita, ditandai otot-otot vagina mengencang tanpa sadar. Artinya tiap-tiap kegiatan yang melibatkan penetrasi, rasa menyakitkan bakal dialami.

Ketika penetrasi, Katrin yang tinggal di Toronto, Kanada, mulai dinding rahimnya ‘ditabrak’ bersama keras. Sejak saat itu, ia tidak nyaman bersama seks penetrasi.

“Aku mulai membenci saat mengarah pada sentuhan intim (seks penetrasi). Jadi, saya menghindarinya. Bukan hanya seks penetrasi, tatkala kumasukkan tampon, itu terhitung menyakitkan. Banyak tampon yang prima justru berakhir di tempat sampah,” cerita Katrin baru-baru ini dilansir dari Metro, Rabu (11/12/2019).

Pada Januari 2010, Katrin berkonsultasi bersama dokter. Ia menyampaikan, mungkin amat muda untuk terkait seks. Tetapi sehabis meneliti tanda-tanda sendiri, Katrin menyadari soal vaginismus.

“Setelah lumayan lama menunggu, dokter kandungan laksanakan pengecekan panggul. Pada saat itu, diagnosis vaginismus terhitung tidak disebutkan. Aku terhitung merintis USG vagina. Pemeriksaan ini mengalami paling banyak rasa sakit,” ujar Katrin.
Awalnya, tersedia yang berikan menyadari bahwa dia tidak apa-apa.

“Aku hanya diberi tahu, jangan khawatir. Rasa menyakitkan bakal menjadi lebih baik (hilang) sehabis melahirkan anak nanti,” Katrin menerangkan.

Merasa ragu bersama penjelasan tersebut, Katrin mencari bantuan terapis, yang menegaskan ia menderita vaginismus. Akhirnya, ia didiagnosis vaginismus oleh terapi.

Ia direkomendasikan coba terapi dilatasi. Alat dilator digunakan meregangkan otot-otot vagina supaya mendukung kurangi nyeri saat penetrasi.

Katrin studi bagaimana memakai alat dilator untuk mendorong otot-otot rileks sambil memperkuat dasar panggulnya.

Pada tahun 2016, Katrin akhirnya laksanakan interaksi seks bebas penetrasi tanpa rasa sakit. Kini, ia miliki ‘kehidupan seks yang memuaskan’ bersama pasangan hidupnya, Dimitri.

Selepas terbebas dari vaginismus, ia berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang akuntan. Katrin fokus mendukung wanita lain yang miliki keadaan serupa bersama dirinya.

Perjuangannya hadapi vaginismus, ia tuliskan dalam buku berjudul Breaking The Cycle Of Pain: Vaginismus.

“Buku ini menjadi perjalanan hidup bagiku. Dan untuk Dimitri, yang telah mendukungku melalui rencana materi dan mendukung menerbitkannya ke dunia ini,” ujar Katrin.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started